Tyto Alba : Penjelajah Kota di Malam Hari

Banyak satwa dari kelompok Pisces, Reptil, Amphibi, Aves, dan Mamalia melakukan pergerakan aktif pada malam hari, terutama untuk mencari makan. Dari semua itu, burung hantu merupakan salah satu satwa yang menggunakan waktu secara total pada malam hari sebagai masa aktif mereka. Desain tubuh burung hantu mulai dari bentuk sayap, bulu, telinga, dan mata telah termodifikasi sedemikian rupa dan menjadikannya sebagai pemburu handal di malam hari. Berburu dengan kepakan sayap tak bersuara, memantau mangsa dengan mata dan pedengaran yang tajam. Burung hantu terklasifikasi secara umum sebagai berikut; Kelas: Aves, Ordo: Strigiformes, Famili: Tytonidae (ada 18 jenis) dan Strigidae (ada 194+jenis). Dari jenis – jenis dalam kelompok burung hantu tersebut, semuanya memegang peran penting dalam konservasi, yaitu sebagai top predator.

Meski belum intensif, pemantauan oelh Raptor Club Indonesia bersama Yayasan kutilang Indoensia menjumpai ada satu jenis burung hantu yang relatif mudah dijumpai di Jogjakarta. Burung hantu jenis ini dapat teramati atau minimal terdengar suara khasnya di sekitar gedung perkantoran, pasar, dan permukiman, Jenis tersebut adalah Serak Jawa (Tyto alba) atau masyarakat beberapa daerah sering menyebut dares atau suwek mori (warna dan suaranya disamakan dengan kain mori putih yang dirobek). Bahkan di sekitar tempat bersarang, burung ini dapat dipancing kedatangannya dengan menirukan suara teriakannya.

Pemangsa serangga, reptil, amphibia, burung, dan mamalia ini dapat terpantau di sekitar sarang mereka pada senja hari hingga subuh. Secara umum, Tyto alba aktif berburu setelah senja dan dini hari, kecuali saat merawat anak – anak, perburuan berlangsung sepanjang malam. Kemampuan mengepak tanpa bersuara menjadikan burung ini mampu terbang tanpa menimbulkan suara gaduh meski burung ini memiliki berat badan lebih dari 400 gram dan rentang sayap lebih dari 1 meter.

Genus Tyto terdiri dari 17 spesies yang termasuk Tyto alba di dalamnya. Serak Jawa (Tyto alba) merupakan burung hantu yang hampir dapat dijumpai di semua habitat terutama kawasan mulai dari permukiman, lahan pertanian, hingga kawasan hutan. Kemampuan beradaptasi menjadikan burung ini tersebar paling luas di berbagai belahan bumi. Dengan sebaran hampir di seluruh benua kecuali Antartika, Tyto alba telah berkembang menurut karakter habitatnya sehingga terbagi dalam 31 sub-spesies. Untuk Serak Jawa di Jogjakarta, termasuk dalam sub-spesies yang sama dengan kawasan Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, dan China barat daya, yaitu Tyto alba javanica.

Pemantauan selama tiga bulan (2009) di kawasan Daerah Istimewa Jogjakarta oleh Raptor Club Indonesia, diperoleh 13 titik sarang Serak Jawa (tabel 1) yang semuanya menempati bangunan dengan bermacam karakter. Dalam hal bersarang, Tyto alba hampir sama dengan burung hantu lainnya, hanya memanfaatkan sarang yang telah ada tanpa ada usaha untuk membangun sarang. Mereka bersarang di lubang pohon, celah batuan, bekas sarang burung lain, gua, bangunan tua, dan konstruksi buatan manusia. Ada beberapa karakter yang menentukan keberadaan sarang, seperti: ketersediaan tempat untuk bersarang, jarak antar teritori, kawasan untuk berburu, dan populasi mangsa. Mengacu pada beberapa faktor pendukung tersebut, diperkirakan masih banyak lokasi sarang Tyto alba yang belum terpantau di wilayah Jogjakarta.

Burung hantu Tyto alba memerlukan waktu sekitar 30 – 34 hari untuk mengerami telurnya yang sejumlah 3 – 12 butir. Setelah menetas, pasangan berbahagia ini akan merawat anak – anak selama lebih dari 75 hari hingga anak mereka mampu pergi meninggalkan sarang (dispersal). Individu dewasa dalam satu malam mampu memangsa 2 – 3 ekor tikus dewasa dan pada musim berkembang biak konsumsi akan meningkat sesuai jumlah anak yang menetas. Dapat diperkirakan, selama musim berkembang biak, sepasang Tyto alba dan lima anaknya mampu memangsa lebih dari 1080 tikus. Ketika berlebih, terkadang hasil tangkapan berupa tikus atau binatang lainnya disimpan sebagai cadangan di sarang atau tempat tersembunyi lainnya. Tidak heran ketika burung hantu ini mudah dijumpai di kawasan perkotaan Jogjakarta karena tersedia tempat bersarang (gedung tua atau rusak) sekaligus mangsa berlimpah (yang biasa dijumpai di pasar, bantaran sungai, dan tempat sampah).


Gambar dari kiri ke kanan : dari enam telur telah menetas 2 ekor anak ; induk terpantau di CCTV sedang mengerami (foto oleh : Bambang Muryanto – AJI)

 

Salah satu temuan menarik dari pemantauan sarang adalah selisih atau perbedaan waktu breeding pada masing – masing lokasi bersarang. Sebagai contoh; ketika anak Tyto alba di gedung BKSDA Jogjakarta telah pergi meninggalkan sarang (dispersal), anak Tyto alba di SMP 16 yang berjarak 4 km (dari BKSDA) masih tinggal di sarang meski sudah sering terlihat bertengger di atap gedung dan dalam waktu bersamaan anak Tyto alba di Jogja Nasional Museum (yang berjarak 1,8 km dari SMP 16) masih sesekali mencoba untuk keluar dari sarangnya. Perlu pemantauan lebih intensif lagi karena masih belum diketahui penyebab selisih waktu tersebut.

Meskipun Tyto alba muda telah keluar dan meninggalkan sarang, namun hampir dipastikan tidak terjadi peningkatan drastis pada hasil pengamatan. Kenyataan tersebut diperkuat dengan daya jelajah individu muda yang mampu mengembara hingga jarak 200 mil dari titik sarangnya. Mekanisme tersebut menjadikan keragaman genetik suatu kawasan tetap terjaga, meskipun resiko kematian akibat pengembaraan juga tinggi.

Fakta Tyto alba lebih banyak dijumpai bersarang di gedung atau bangunan tua di kawasan perkotaan dibandingkan di wilayah pedesaan cukup memprihatinkan. Padahal kemampuan burung hantu dalam memangsa tikus di lahan pertanian sangat diperlukan sebagai kontrol populasi secara murah dan berkelanjutan. Beberapa hal diperlukan untuk menjadikan Tyto alba sebagai top predator pengendali hama tikus, yaitu :

  1. kesadaran warga di kawasan pertanian tentang arti penting Tyto alba sebagai pengendali hama tikus dengan menjaga keberadaan individu burung hantu
  2. keberadaan sarang (secara alami maupun pembuatan nestbox atau membuat tempat khusus pada bangunan yang tersedia) di dekat kawasan pertanian
  3. keberadaan pohon sebagai tempat bertengger untuk berburu mangsa di tepi dan di tengah lahan pertanian
  4. penangkaran (ex situ dan in situ) untuk meningkatkan populasi Tyto alba di alam.

 

Gambar dari kiri ke kanan : anak Tyto alba dalam sarang ; proses pemindahan keenam anak ke dalam nestbox baru (foto oleh Bambang Muryanto - AJI & Sicong – Hijau)

 

Pengendalian populasi tikus dengan menggunakan predator alami memerlukan proses yang tentunya juga memerlukan peran aktif dari berbagai pihak. Besarnya manfaat dengan keberadaan Tyto alba tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat karena berhubungan dengan kestabilan ekosistem. Pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali tikus perlu tetap dibarengi dengan upaya lain untuk melindungi kelestarian individu dan habitatnya.

Pustaka:

Baskoro. K., 2005, Tyto alba : Biologi, Perilaku, Ekologi, dan Konservasi, Pecinta Alam Haliaster – Universitas Diponegoro, Semarang,

The Hawks dan Owl Trust, 2005, The Barn Owl Conservation Network, http://www.bocn.org/

MacKinnon. J., Phillips.K, van Balen B., 2000, Burung – burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan, Puslitbang Biologi LIPI,

Roulin A., 2004, Function of Food Stores in Bird Nest : Observations and Experiments in Barn Owl Tyto Alba, Zoology Department University of Cambridge, Ardea92 (1) 69 - 78

 

Sumber : Warta Konservasi BKSDA Yogyakarta Volume 10 No.2/Agustus 2009

Pencarian berkas :

Online
Kami memiliki 17 Tamu online