Falconry untuk Edukasi dan Konservasi Burung Pemangsa di Indonesia

Keberadaan burung pemangsa di Indonesia dapat dikatakan luar biasa, ada 78 jenis burung pemangsa yang telah tercatat di Nusantara. Itu berarti, bumi Indonesia menjadi tempat hidup bagi 25% dari total jumlah jenis burung pemangsa di dunia. Dari jumlah tersebut, ada 15 jenis raptor dengan predikat endemik yang berarti hanya dapat dijumpai secara alami di Indonesia. Artinya, sekitar 20% burung pemangsa Indonesia adalah endemik. Sebagian lagi merupakan burung yang bermigrasi untuk menghindari musim dingin di belahan bumi utara.

Ironisnya, jumlah jenis yang besar tersebut juga setara dengan besarnya ancaman yang ada. Ancaman terhadap burung pemangsa sebenarnya sama dengan satwa liar lainnya, mulai dari tingginya perburuan, perubahan iklim, dan kerusakan habitat. Ancaman langsung berupa perburuan disebabkan oleh permintaan yang terus menerus dalam perdagangan burung pemangsa.

Nasib burung pemangsa selama dalam “tahanan” tidak kalah tragisnya. Sejak di garis depan perdagangan satwa, Perhatian sekedarnya diberikan karena burung dalam kelompok ini tidak dapat dipanen dalam jumlah besar serta frekuensi penangkapan jauh lebih lama dari burung berkicau pada umumnya. Pada level pengepul dan pedagang, nasib burung pemangsa makin dipermainkan. Mulai dari keracunan, penyakit akibat stress tinggi, cacat fisik, salah pemberian jenis pakan hingga dehidrasi maupun kelaparan sangat mudah terjadi pada penguasa rantai makanan ini. Minimnya pengetahuan dan apresiasi dari pemburu, pedagang, hingga ke tangan pemelihara telah menjadi jalan panjang bagi penderitaan burung pemangsa.

Fakta tersebut menggugah beberapa individu dari berbagai profesi untuk mendirikan sebuah organisasi yang memperjuangkan nasib burung pemangsa dangan nama Raptor Club Indonesia (RCI).

 

Aktifitas yang dilakukan Raptor Club Indonesia

Sebagai organisasi baru, sangat banyak hambatan dan hal yang perlu dibenahi sehingga dukungan dari anggota dan pihak pemerintah yang diwakili oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terasa sangat berarti. Beberapa aktifitas yang dilakukan para anggota Raptor Club Indonesia sejak 2009 antara lain :

  1. Pelatihan burung pemangsa dengan metode falconry
  2. MoU antara RCI dengan BKSDA Daerah Istimewa Jogjakarta (21 April 2011)
    MoU antara RCI
  3. Pelepasliaran Elang Jawa; Spizaetus bartelsi – “Sylvi” (25 April 2009)
  4. Pelepasliaran Elang – Alap Nipon; Accipiter gularis (04 Januari 2011)
    pelepasliaran Elang
  5. Pelepasliaran Elang – Alap Jambul; Accipiter trivirgatus (15 September 2011)
    5. pelepasliaran Elang – Alap Jambul; Accipiter trivirgatus (15 September 2011)
  6. Pelepasliaran Elang – Alap Jambul; Accipiter trivirgatus (02 Februari 2012)
    6. pelepasliaran Elang – Alap Jambul; Accipiter trivirgatus (02 Februari 2012)
  7. Implantasi microchip pada burung pemangsa (2010 – sekarang)
    7. implantasi microchip pada burung pemangsa
  8. Pengamatan burung pemangsa (2009 – sekarang)
    pengamatan burung pemangsa (2009 – sekarang)
  9. Pemetaan sarang Serak Jawa; Tyto alba javanica (2009 – sekarang)
    9. pemetaan sarang Serak Jawa; Tyto alba javanica (2009 – sekarang)
  10. Partisipasi The Third International Festival of Falconry (10 – 18 Desember 2011)
    partisipasi The Third International Festival of Falconry (10 – 18 Desember 2011) |

Sadar tidak dapat bergerak sendiri, maka beberapa aktifitas tersebut mendapat dukungan dari LSM lingkungan lain seperti Yayasan Kutilang Indonesia dan Hijau-gerakan perduli lingkungan.

Program kerja Raptor Club Indonesia

Sesuai dengan kondisi masyarakat dan alam liar di Indonesia, langkah Raptor Club Indonesia dengan “falconry konservasi dan edukasi”-nya  ditunjukkan pada :

  1. Pendirian raptor center berbasis falconry untuk rehabilitasi burung pemangsa
  2. Riset penangkaran ex situ bagi burung pemangsa
  3. Pendirian bank DNA untuk burung pemangsa Indonesia
  4. Implantasi dan penandaan burung pemangsa ex situ
  5. Re-introduksi Tyto alba javanica dan nestbox di lahan pertanian
  6. Kunjungan edukasi untuk siswa sekolah dasar hingga menengah
  7. Pemantauan kawasan – kawasan penting bagi burung pemangsa

 

Banyak lembaga telah lebih dulu melakukan langkah – langkah untuk  pelestarian satwa liar dan habitatnya di Indonesia. Raptor Club Indonesia mencoba ikut mendukung niat mulia tersebut dengan mengisi bagian yang masih jarang “tersentuh” oleh yang lain, yaitu falconry. Langkah pendidikan lingkungan dan penangkaran merupakan penyangga bagi aktifitas lainnya dalam program falconry. Kerjasama dengan berbagai pihak mutlak diperlukan karena semakin banyak partisipan, maka upaya pelestarian burung pemangsa dan habitatnya bukan sekedar isapan jempol belaka.